5th Gubeng Jaya Street Number 2 Postcode 60281 Phone (031) 5023214 Surabaya City Indonesia

Rumah Belajar Kemendikbud


Daftar isi
1. Sumber belajar
2. Peta Budaya
3. Buku Siswa Elektronik
4. Wahana Jelajah Angkasa
5. Bank Soal
6. Pengembangan keprofesian berkelanjutan
7. Laboratorium maya
8. Kelas Maya

klik link di bawah ini!
https://belajar.kemdikbud.go.id/Dashboard/
Share:

PPDB 2019, Mendikbud: Nomor Induk Siswa Tidak Berlaku, Diganti NIK


GTK - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menyatakan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) tidak akan berlaku pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019. Sebagai gantinya para calon murid hanya cukup menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK).



Dalam sistem zonasi yang akan berlaku pada PPDB 2019, NISN akan digantikan dengan NIK untuk para calon siswa sebagai bagian dari pendataan administrasi di sekolah.

Oleh karena itu Kemendikbud melakukan kerja sama dengan Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil untuk mengoptimalkan langkah tersebut.

"Kami akan mengintegrasikan antara Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dengan data kependudukan catatan sipil di Kemendagri," ujar Mendikbud Muhadjir Effendy di kantornya selepas menandatangai kesepakatan kerja bersama Dukcapil, Selasa (22/1/2019).

Menurutnya, dengan perubahan tata pelaksanaan pendataan calon murid ini orang tua murid tidak perlu lagi mendaftarkan anaknya ke sekolah. Sebab sekolah dan aparatur daerah yang akan menetapkannya sesuai dengan ketentuan zonasi yang ada.

Nantinya masing-masing calon murid memiliki tiga pilihan sekolah yang sesuai dengan jarak tinggal dan lokasi sekolah yang ada.

Dirjen Dukcapil Zudan Arif Fakrulloh menyambut baik penandatangan kerja sama tersebut. Sebab hal ini berkaitan dengan kesuksesan program yang digagas pemerintah melalui wajib belajar 12 tahun. Dikarenakan akan lebih mudah pemerintah untuk memantau para aktivitas murid.

"Sehingga dengan NIK itu, dengan adanya data base. Lebih mudah dipantau, dia sekolah di mana, tingga di mana, sekarang kelas berapa," ujarnya.

Keutungannya dengan sistem data yang terintegrasi tersebut kata Zudan di antaranya adalah calon murid akan lebih mudah mendapatkan bantuan jika di tengan proses masa belajarnya mendapatkan masalah seperti terancam putus sekolah.

"Kalau nanti dia [murid] putus sekolah di kelas lima. Pak menteri akan memerintahkan dinas dirjen, Pak Mendagri akan mengutus bupati, wali kota untuk memeriksa. Anak ini putus sekolah karena apa. Kalau tidak memiliki biaya, [kami] urus beasiswanya dari APBD, bisa dari APBD atau KIP," ujarya.

Sehingga menurutnya, pemerintah bisa memastikan wajib belajar 12 tahun terlaksana dengan baik kepada seluruh penduduk. Sebab seluruh penduduk dapat dilacak melalui NIK.

Share:

Permasalahan Anak dalam Era Digital (UNICEF)

Teknologi digital juga dapat membuat anak-anak lebih rentan terhadap bahaya baik online maupun off. Anak-anak yang sudah rentan dapat menghadapi risiko bahaya yang lebih besar, termasuk kehilangan privasi. TIK meningkatkan risiko tradisional masa kanak-kanak, seperti bullying, dan memicu bentuk-bentuk baru pelecehan dan eksploitasi anak, seperti materi pelecehan seksual anak 'yang dibuat berdasarkan pesanan' dan streaming langsung pelecehan seksual anak.
Predator dapat lebih mudah melakukan kontak dengan anak-anak yang tidak menaruh curiga melalui profil media sosial dan forum permainan anonim dan tidak terlindungi. Nologies teknologi baru - seperti cryptocurrency dan Dark web - memicu streaming langsung pelecehan seksual anak dan konten berbahaya lainnya, dan menantang kemampuan penegak hukum untuk mengikutinya.
Sembilan puluh dua persen dari semua URL pelecehan seksual anak yang diidentifikasi secara global oleh Internet Watch Foundation dihosting di hanya lima negara: Belanda, Amerika Serikat, Kanada, Prancis, dan Federasi Rusia.

       Upaya untuk melindungi anak-anak perlu fokus terutama pada anak-anak yang rentan dan kurang beruntung, yang mungkin kurang memahami risiko online - termasuk kehilangan privasi - dan lebih mungkin menderita bahaya. Sementara sikap berbeda-beda berdasarkan budaya, anak-anak sering kali berpaling terlebih dahulu kepada teman sebayanya ketika mereka mengalami risiko dan membahayakan......

Source: https://wisehouseeducation.blogspot.com/2019/01/permasalahan-anak-dalam-era-digital.html
Share:

Children in A Digital World

Do you remember the first time you went online?
Chances are you knew life before the internet. But for children growing up online, life is unimaginable without it. 
 
Digital technology has transformed the world we live in – disrupting entire industries and changing the social landscape.
Childhood is no exception. One in three internet users worldwide is a child, and young people are now the most connected of all age groups.
From photos posted online to medical records stored in the cloud, many children have a digital footprint before they can even walk or talk.
Digital technology can be a game changer for disadvantaged children, offering them new opportunities to learn, socialize and make their voices heard – or it can be yet another dividing line. Millions of children are left out of an increasingly connected world.
Infographic: Worldwide, 346 million youth do not have access to digital technology / Around 3 out of 5 youth in Africa are offline, compared to just 1 in 25 in Europe.
 Infographic: Worldwide, 346 million youth do not have access to digital technology / Around 3 out of 5 youth in Africa are offline, compared to just 1 in 25 in Europe.
And the online gender gap is growing: Globally there are 12 per cent more men than women online, and the gap is greatest in low-income countries.
And as digital technology rapidly evolves, so can the risks children face online – from cyberbullying to misuse of their private information to online sexual abuse and exploitation.
For better and for worse, digital technology is an irreversible fact of our lives. How we minimize the risks while maximizing access to the benefits will help shape the lives and futures of a new generation of digital natives.
UNICEF set out to uncover how the internet and digital technology are helping and hindering children’s learning, well-being and social relationships.
Explore these stories and learn about the urgent need to make the internet safer for children while increasing access to digital technology for every child, especially the most disadvantaged.

Referensi: https://www.unicef.org/sowc2017/

Share:

Permendikbud No. 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru pada TK, SD, SMP, SMA, dan SMK

Hasil gambar untuk PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2018
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-Kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan Sekolah Menengah Kejuruan



UNDUH/DOWNLOAD
Share:

Perkembangan Anak Usia 13-24 Bulan

Anak pada usia 13-24 bulan memperlihatkan kemempuan perkembangannya yang pesat. Dalam pengertian yang positif, ananda mulai ingin melakukan banyak hal sendiri. Meskipun demikian, setiap ada saja perilakunya yang mungkin membuat ayah bunda kesal dan lelah. Mulai dari mencoret-coret tembok, merobek-robek lembar buku cerita, menumpahkan minuman, naik turun tangga rumah, dan sebagainya.
Saat sedang makan, ananda seringkali ingin bermain sendiri, menolak disuapi, dan apabila makan sendiri selalu saja berantakan. Selain itu apabila ayah bunda melarang, ananda pasti menjerit dan menangis. Sepertinya, kian hari ia semakin suka membantah dan sukar diatur, tidak seperti dulu.
Sebagian besar kata-katanya belum jelas meski sudah dapat dipahami. Rasa ingin tahunya kian besar terhadap hal-hal yang ada di sekelilingnya sehingga ia banyak bertanya. Satu hal lagi yang sulit sekali dilakukan ananda padalah sudah sering dinasehati, ialah berbagi. Saat bermain dengan anak lain, selalu saja ada keributan karena ia enggan untuk berbagi. Setiap mainan selalu dikuasainya hingga membuat anak lain kesal.
Memasuki usia 13-24 bulan wajar jika anak banyak gerak dan selalu ingin tahu. Hal ini menunjukkan perkembangan yang pesat pada kemampuan fisik dan berpikirnya. Anak pun sudah banyak bicara meski pegucapannya belum jelas. Sementara itu perkembangan sosial dan emosinya, tampak dari sikap menentang dan tidak bisa dilarang. Hal ini memang tidak jarang membuat ayah bunda kesal. Akan tetapi, perilaku ini merupakan bekal untuk mencapai kemandirian di kehidupan yang akan datang.

Referensi: http://wisehouseeducation.blogspot.com/2019/01/perkembangan-anak-usia-13-24-bulan.html
Share:

Tas Ransel Anak Sd Smp Tas Sekolah Murah Ranse

Shopee

Total Tayangan Halaman

Arsip Blog

Labels

Blog Archive