5th Gubeng Jaya Street Number 2 Postcode 60281 Phone (031) 5023214 Surabaya City Indonesia

MENGENALKAN KONSEP WAKTU PADA ANAK

SAHABAT KELUARGA – Sejak usia dini, anak perlu diajarkan tentang konsep mengenal waktu. Kenapa? Karena melalui konsep waktu, anak belajar tentang waktu yang berjalan terus dan tidak terulang, belajar mengatur prioritas serta mengajarkan tentang disiplin dan tanggung jawab.
Menurut Reni Kusumowardhani, M.Psi, psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia, sejak bayi sebenarnya ibu sudah mengajarkan konsep waktu, yakni melatih bioritme bayi untuk tidur lebih panjang saat malam hari dan sebentar-sebentar saat siang hari.
Anak juga mulai belajar waktu melalui pembiasaan, bahwa pada jam tertentu yakni pagi dan sore anak dimandikan. Pada jam-jam tertentu juga ada makanan tambahan selain ASI.
Semakin bertambah usia, anak mulai menyadari sebuah rutinitas, bahwa mandi dua kali sehari pada pagi dan sore, makan tiga kali sehari serta tidur tidak terlalu malam dan bangun pada pagi hari
Menurut Reni, ada tiga konsep waktu yang bisa dikenalkan pada anak, yaitu waktu yang lalu, sekarang dan yang akan datang. ”Jelaskan bahwa waktu yang lalu tidak bisa diulang kembali dan waktu sekarang dipengaruhi yang sudah lalu dan mempengaruhi yang akan datang,” jelas Reni.
Tiga konsep ini tidak secara otomatis dipahami oleh anak. Karena itu, ada tahapan mengajarkan konsep waktu pada anak yang menyesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif anak. 

  1. Tahap sensori-motor (usia 0-2 tahun), yakni mengajarkan konsep waktu melalui hal-hal yang bisa dilihat, didengar, diraba, dirasa, dibaui sebagai suatu pola yang bisa dipelajari.
  2. Tahap pra operasional (2-7 tahun), anak diajarkan mengenai waktu melalui hal-hal yang bersifat konkrit. Di sini, pembiasaan terhadap pola-pola tertentu akan membangun persepsi hubungan antara waktu tertentu dengan kegiatan tertentu. Misalnya, kapan waktu mandi, kapan waktu makan, kapan wanit main dan kapan waktu tidur.
  3. Tahap operasional konkrit (7-12 tahun). Pada tahap ini anak mulai dapat melakukan proses logika, mampu berpikir klasifikasi dan saatnya anak mulai secara bertahap diberi penjelasan logis mengenai pentingnya mengelola waktu yang erat kaitannya dengan disiplin.
  4. Setelah usia 12 tahun, perkembangan kognitif anak sudah pada tahap operasional formal. Anak mampu berpikir abstrak dan lebih fleksibel dalam memandang persoalan dari berbagai sudut yang berbeda. Oleh karena itu, pada tahap ini anak sudah lebih daopat menerima penjelasan yang kompleks mengenai pentingnya pengelolan waktu, termasuk untung ruginya jika tidak mengelola waktu dengan baik. (Bunga Kusuma Dewi)
Mengenalkan Konsep Waktu Pada Anak
Share:

WASPADA KECANDUAN GAME DI INTERNET PADA ANAK


SAHABAT KELUARGA - Di era yang semakin canggih ini, permainan tradisional untuk anak-anak semakin tersingkirikan. Berganti dengan permainan yang menggunakan komputer yang terhubung ke internet ataupun gadget.  
Anak bisa menghabiskan waktu hingga berjam-jam hanya untuk bermain di komputer. Mereka jadi kecanduan dan lebih banyak menghabiskan waktu bermain di komputer dibandingkan bersosialisasi dengan teman-temannya.
Tetap terhubung ke dunia maya dalam waktu cukup lama juga bisa mengakibatkan anak-anak tidak mampu menghadapi tantangan nyata kehidupan.
Ketika anak sudah kecanduan berbagai game di internet, hal tersebut dapat mendatangkan berbagai efek negatif pada diri anak, salah satunya pengaruh pada kesehatan fisik dan mental.
Dikutip dari Blod Sky, ini efek yang akan dialami buah hati yang kecanduan bermain di komputer:
1. Sakit Mata
Jika anak Anda menghabiskan waktu seharian di depan layar monitor dan menatap layarnya secara terus menerus, matanya akan terganggu. Mata anak Anda akan terkena Computer Vision Syndrome (CVS) dimata penglihatannya akan terganggu dan sakit di bagian mata. 
2. Nyeri Pada Jari dan Pergelangan Tangan
Berlama-lama duduk di depan komputer dalam posisi yang salah dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Jika anak Anda mengeluh sakit pada bagian pergelangan tangan dan jarinya nyeri dan sakit atau ada sensasi terbakar di syaraf, segera perbaiki postur duduknya di depan komputer.
3. Obesitas
Karena terlalu lama fokus di depan komputer, anak akan kurang bergerak. Anak yang kurang bergerak akan mengalami kemungkinan obesitas dan dapat menimbulkan berbagai macam penyakit pada buah hati Anda.  
4. Tingkah Laku Berubah
Ada beberapa permainan komputer yang dirancang dengan banyak kekerasan di dalamnya, misalnya membunuh lawan untuk mencapai ke tingkat berikutnya. Hal tersebut dapat mempengaruhi anak menjadi agresif di kehidupan nyata. Menurut para ahli, tingkah laku anak berubah karena terbiasa melihat karater permaianan tersebut. Anak tidak dapat membedakan dunia nyata dan permainan di komputer.
5. Kurang Sosialisasi
Bagi anak-anak, mungkin lebih menyenangkan bermain di depan komputer dari pada bermain dengan teman-teman sebayanya. Jika anak Anda lebih fokus bermain game dibandingkan menghiraukan perkataan Anda, bisa jadi anak sudah terkena efek dari kecanduan komputer.
6. Kurang Tidur
Penelitian menemukan bahwa bermain komputer secara terus menerus dapat mempengaruhi waktu tidur. Blue light atau cahaya biru yang dipantulkan monitor komputer akan membuat anak Anda susah tidur.
7. Prestasi Akademik Menurun
Ketika buah hati Anda sudah kecanduan dengan komputer, pasti akan sulit menyempatkan waktu untuk belajar. Efeknya, prestasi di sekolah akan menurun. Selain itu, konsentrasi di sekolah juga akan berkurang karena anak akan lebih fokus ke permainannya.

Tapi, memang tidak mudah untuk menghilangkan game sepenuhnya dari kehidupan anak Anda, karena saat ini permainan tersebut cukup populer. Oleh karena itu, orang tua dapat mengontrol permainan mereka dengan beberapa batasan, diantaranya mengatur waktu bermain dan menginstalnya di komputer utama, bukan di laptop pribadinya. Cek aktivitas hariannya saat sedang bermain dengan menggunakan internet.
Kenalkan anak Anda pada dunia luar seperti olah raga atau wisata alam. Sebagai orang tua tentu Anda yang punya peranan dalam menerapkan disiplin ke buah hati Anda, agar anak dapat mengetahui mana yang baik atau tidak baik.  (Bunga Kusuma Dewi)
Share:

ANAK-ANAK JUGA BISA STRESS, ORANGTUA PERLU TURUN TANGAN


SAHABAT KELUARGA-Stres tidak hanya dimiliki orang dewasa. Anak kecil juga bisa stress, misalnya saat nilai ulangan jelek, dimarahi teman atau melakukan kesalahan dan sebagainya. Bisa juga karena ditekan orang tuanya harus mendapat nilai bagus, harus menduduki peringkat 10 besar, menjadi juara di bidang seni maupun olahraga, dan sebagainya.
Mungkin kita tahu atau ingat adanya kasus pengeroyokan yang dilakukan siswa SD terhadap teman sebayanya. Para pelaku pengeroyokan itu bisa jadi sedang mengalami stres dan tak tahu harus bagaimana mengakhirinya. Akibatnya mereka melampiaskan kebingungan itu dengan memukuli seorang teman sekolah hingga cedera bahkan tewas.
Orang tua sebaiknya tahu dan mengenali, kapan anaknya stress dan paham bagaimana menghadapinya agar si anak tidak stress berkepanjangan dan dikhawatirkan tidak terkendali.
Ada beberapa cara yang muingkin bisa dicoba orang tua untuk menurunkan stress pada anak, yaitu:

  1. Ciptakan rasa aman di rumah
Rumah adalah tempat berlindung bagi seorang anak. Bila anak merasa aman dan nyaman di rumah dan memiliki tempat bersandar ketika mereka menghadapi persoalan, stress mereka sedikit demi sedikit akan berkurang.

  1. Lontarkan candaan yang ringan
Cobalah lontarkan humor atau candaan yang ringan, memutar musik kesukaan dan melakukan aktifitas bersama, seperti makan malam atau jalan-jalan di akhir pekan.

  1. Mendongeng
Dongeng merupakan cara terbaik untuk menjalin kedekatan dengan anak. Jika pendekatan Anda berhasil bisa jadi ia akan angkat bicara tentang problema yang dihadapinya. Jika tidak, tidak apa-apa. Ceritakan saja kisah tentang para superhero yang kadang-kadang mengalami kekalahan dan masalah serta cara para pahlawan menyelesaikannya.

  1. Biarkan anak bermain
Cobalah membiarkan atau bahkan menganjurkan anak untuk bermain lebih lama dari biasanya. Bermain biasanya membuat anak gembira dan melupakan masalah yang dihadapinya.  

  1. Menumbuhkan kemampuan menyelesaikan masalah
Orang tua dengan anak yang lebih dewasa dapat mulai mengajarkan tentang bagaimana anak harus bersikap terhadap masalah.  Lalu bantu mereka membayangkan konsekuensi dari masing-masing tindakan. Pertanyaan terbuka seperti, “Apa pendapatmu tentang hal ini?” akan memancing mereka untuk memikirkan bagaimana cara menyelesaikan masalah.

  1. Menjadi contoh yang baik
Anak biasanya selalu mencontoh orang tuanya, dalam hal apapun. Jadi, bersikaplah bijaksana ketika Anda sedang tertekan akibat masalah pekerjaan karena hal itu akan mempengaruhi sikap anak ketika mereka sedang menghadapi masalah. Yanuar Jatnika
Share:

BILA ANAK BERBUAT SALAH, APA YANG HARUS DILAKUKAN ORANGTUA

Bila anak anda melakukan suatu kesalahan atau berbuat yang tidak tepat, yang membahayakan, atau yang dapat merugikan masa depannya, bagaimana anda bersikap? Bagaimana cara anda agar anak menyadari kesalahannya dan tidak mengulanginya lagi?
Bila anda melakukan komunikasi negatif dengan cara mengancam, menuduh, atau mencelanya, jangan harap anak anda akan berubah sikap dan menyadari kesalahannya. Sebaliknya, mungkin ia akan rendah diri, hilang kepercayaan dan balik menyalahkan orang tuanya atau menyalahkan orang lain. Dampak lainnya, hubungan dengan anda sebagai orang tua akan lebih berjarak.
Cobalah  menerapkan komunikasi positif. Anak akan lebih mudah mencerna kalimat positif daripada mendengar kalimat negatif  atau larangan, meskipun artinya sama. Berkomunikasi yang positif mampu menghasilkan perubahan perilaku pada anak.  Memungkinkan terjadinya saling pengertian antara orang tua dan anak. Apa yang dikehendaki oleh orang tua dapat dimengerti oleh anak  atau demikian pula sebaliknya. Anak akan merasa aman dan nyaman bila berkomunikasi dengan orang tua sehingga tumbuh rasa diri berharga dan berujung perubahan sikap.
Contohnya, anda melihat si sulung memukul adiknya. Anda spontan mengatakan :“Dasar anak nakal!,  jangan memukul adikmu lagi ya”. Cobalah menggunakan kalimat positif dengan mengatakan: “Tanganmu bukan untuk memukul adikmu, tapi tanganmu digunakan untuk hal hal baik”.
Contoh  lain, anak anda mencoret-coret dinding rumah sehingga terlihat kotor, maka anda langsung mengancamnya: “Kalau coret-coret lagi di dinding, ibu jewer telingamu!”. Cobalah mengatakannya dengan ungkapan lain, seperti  “Dinding bukan untuk digambar. Kalau mau menggambar di kertas saja ya”.
Cobalah juga mengganti kalimat negatif seperti kata “jangan”, “tidak boleh”, “dilarang” dengan kalimat positif yang semakna dengannya. Misal, ketika terlihat si anak sedang asyik naik-turun tangga yang bisa membahayakannya, anda dapat menegurnya dengan menggunakan kalimat persuasif, “Mainnya di lantai bawah saja, yuk!” sebagai pengganti dari kalimat negatif berikut, “aduh, jangan main di tangga, nanti jatuh!”. Contoh lain; seperti “Kalau nonton TV jangan dekat-dekat”, menjadi “Kalau nonton TV, mundur lagi, duduk di sofa”. “Mainan jangan dimasukin mulut”, diubah menjadi “Yang boleh masuk ke mulut, makanan dan minuman”. 
Memang, tujuan kedua kalimat itu, positif dan negatif, sama, yakni agar si anak berubah sikap dan menyadari kesalahannya. Tapi cobalah belajar mengungkapkan kalimat positif setiap hari dan lihatlah dampaknya. Tidak hanya berubah sikap, tapi anak anda juga akan aman dan nyaman berada di samping anda. Insya Allah
Share:

INGIN ANAK ANDA PERCAYA DIRI DAN MANDIRI? MUNGKIN CARA INI BISA DICOBA

Ada 13 cara mendidik kemandirian dan percaya diri pada anak:
  1. Berikan senyuman yang tulus dan pelukan hangat. Katakan kepada mereka bahwa Anda akan mencintai mereka setiap saat dalam berbagai situasi.
  2. Berikan penghargaan, pujian untuk meningkatkan kepercayaan diri anak. Jangan pelit untuk mengatakan “Wow hebat ya”, “Bagus sekali”,“Terima kasih, karena telah membantu,”bila anak anda menunjukkan prestasi.
  3. Dengarkan suara hati anak terutama ketika dia dalam masalah. Cobalah mendengarkan dengan penuh minat sekecil apapun masalahnya. Hal ini akan menjadikannya lebih siap dan lebih tegar.
  4. Berikan kepercayaan agar belajar bertanggungjawab dan mandiri. Cobalah untuk memberikan kebebasan kepada anak. Namun, katakana juga, jika kebebasan itu ada batasannya serta ada tanggungjawab yang menyertainya.
  5. Katakanlah kepada anak hal-hal yang membuat Anda mengagumi dan menghargainya. Katakan lagi apa yang ia katakan kepada Anda agar dia yakin bahwa Anda memahaminya dengan benar: “Oh jadi kamu ingin aku menemanimu pada acara malam nanti, begitu?”
  6. Jika memiliki anak lebih dari satu, jadwalkan waktu yang sesuai untuk melayani perbedaan individu dengan membagi waktu secara berkualitas untuk anak, dan memahami keunikan dan kekhasan masing-masing.
  7. Anak dapat diberi beberapa pilihan mengenai apa dan berapa banyak ia ingin beli keperluannya, atau kapan ia mengerjakan PR dan kapan ia harus main.
  8. Dampingi anak pada saat-saat penting dalam hidupnya. Contohnya mendampingi anak di hari pertama masuk sekolah pada jenjang baru, mendoakan untuk keberhasilan bila mereka sedang ikut kompetisi atau lomba atau sedang ujian.
  9. Ajak dan doronglah anak untuk mengelola uang saku atau transport yang telah diberikan, atau meminta anaknya untuk dapat mengurus pakaian dan merapikan tempat tidur atau sepatunya atau alat-alat sekolah miliknya sendiri.
  10.  Jaga dan lindungi anak-anak dari bahaya yang terdapat dalam rumah dan di luar rumah. Orangtua dapat memastikan tidak ada alat-alat yang membahayakan bagi anak ketika main di dalam rumah atau ketika sedang di luar rumah, dan melindungi mereka dari pornografi, pelecehan, kecelakaan dan lainnya.
  11. Perhatikan dan ketahuilah keadaan anaknya di sekolah atau saat belajar kelompok, jalinlah komunikasi dengan kepala sekolah dan guru, dan berusahalah menghadiri undangan di sekolah.
  12. Jika anak anda main atau belajar  di luar rumah, sepakati agar dia pulang tepat waktu  atau menelepon jika terlambat atau ada urusan yang lainnya. Perhatikan siapa teman-temanya dan kenali mereka. Secara rutin periksa kamarnya untuk memastikan bahwa dia tidak menyimpan barang-barang terlarang.
  13. Tunjukkan bahwa anda tertarik dengan apa yang ia kerjakan, lalu tanyakan apa yang terjadi setelah ia berusaha. Berilah bantuan dan antarkan dia ke tempat kegiatan yang ia sedang lakukan dengan teman-temannya.
Berikan contoh, bahwa anda adalah orang yang berdisiplin, bertanggungjawab dan jujur setiap saat, baik ketika bersama anak anda atupun ketika sendirian. Karakter anda ini akan menjadi panutan dan contoh yang hidup dan berharga bagi anak anda.
Share:

KAPAN SEBAIKNYA ANAK DIBEKALI PONSEL?

SAHABAT KELUARGA - Anak usia sekolah dasar belum memiliki kematangan dalam memegang tanggung jawab penuh terhadap barang-barang yang dimilikinya, termasuk ponsel.
Psikolog anak, Agustina Hendriati, Psi, MSc, mengklasifikasikan kebutuhan ponsel melalui tingkat pendidikan.

Anak kelas 1-3 SD

Komunikasi kerap menjadi alasan utama yang sering digunakan orang tua untuk membekali anak membawa ponsel ke sekolah di usia kelas 1 hingga 3 SD.
Alasannya, karena orang tua khawatir anaknya tidak dijemput supir atau pengasuhnya. Orang tua juga mengkhawatirkan anaknya belum makan atau terjadi apa-apa. 
Namun, tanpa disadari, hal tersebut justru membahayakan anak. Saat anak mengeluarkan ponsel dari sakunya, penjahat yang tidak pernah diketahui keberadaannya membidik ponsel yang ada di tangan anak.
Beruntung jika hanya ponsel yang diambil, bagaimana jika anak juga menjadi sasaran kejahatan? Karena itu, ada baiknya ponsel hanya cukup dibekali pada pengasuh atau orang dewasa lainnya.
”Anak usia segitu kan jarang pulang sendiri. Jadi, lebih baik hubungi pengasuh atau antar jemputnya untuk memastikan anak sudah sampai di rumah tepat pada waktunya,” jelas A. Hendriati.
Jika keadaannya mendesak untuk segera berkomunikasi dengan anak, hubungi melalui pihak sekolah. Sebaliknya, jika anak butuh berkomunikasi dengan orang tuanya, minta pihak sekolah untuk membantunya.

Anak kelas 4-6 SD

Di sejumlah kota besar, usia anak kelas 4 hingga 6 SD memiliki kecenderungan ’matang’ lebih cepat. Anak bisa menyerap informasi demikian cepat. Pergaulan mereka pun lebih luas dan lebih canggih.
Karena tuntutan zaman itulah, kebutuhan penggunaan ponsel pada anak jadi lebih tinggi. Anak butuh berkomunikasi dengan teman sebayanya melalui ponsel. Belum lagi, tuntutan ingin memiliki ponsel karena teman sebangkunya juga memiliki ponsel.
”Dari sisi perkembangan zaman, kebutuhan anak kelas 4-6 SD memang lebih tinggi dibandingkan anak kelas 1-3 SD. Mereka ingin berkomunikasi dengan teman-teman sebayanya melalui ponsel,” kata dosen di Fakultas Psikologi Unika Atmajaya, Jakarta ini.
Meski sudah cukup handal mengotak-atik ponsel, tetap saja anak belum bisa memahami sepenuhnya penggunaan alat pintar itu. Yang bisa terjadi justru kemampuan untuk ’menyalahgunakan’ penggunaan HP, misalnya, digunakan untuk mencontek.
Anak merekam kunci jawaban di tempat menyimpan SMS atau menggunakan fasilitas mesin pencarian untuk mencari kunci jawaban. Hal seperti itu tentunya berdampak negatif dan mendidik anak berperilaku curang.
Belum lagi, kemajuan fitur ponsel yang memudahkan mentransfer data, termasuk gambar yang belum pantas di konsumsi untuk anak seumurannya. ”Dari pada tidak ada fungsinya, lebih baik tidak usah sama sekali,” tegas A. Hendriati.
Hingga anak di usia kelas 6 SD, Hendriati menilai, bentuk komunikasi masih bisa ditanggulangi tanpa menggunakan ponsel. ”Jadi buat apa? Hampir tidak ada kepentingannya. Dari segi perkembangan psikologisnya, saya tidak melihat suatu kegunaan,” jelasnya.
Usia anak di tingkat lanjutan SMP merupakan waktu yang tepat untuk membekali anak dengan ponsel. Anak usia SMP semakin ’matang’ dalam mengatur penggunaanya namun tetap saja butuh pengawasan orang tua. (Bunga Kusuma Dewi)
Sumber : sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id
Share:

JIKA TERPAKSA MEMBEKALI PONSEL, APA YANG HARUS DIPERHATIKAN?

SAHABAT KELUARGA - Jika memang terpaksa anak harus dibekali ponsel, lihat dulu kebutuhannya. Apakah anak tersebut memang memerlukan teknologi telepon genggam itu?
Membekali anak dengan ponsel ada baiknya dilakukan pada acara-acara yang sifatnya mendesak. Misalnya jika anak melakukan perjalanan karya wisata yang tidak boleh didampingi orang tua.
Sebelum membekali anak dengan ponsel, psikolog anak, Agustina Hendriati, Psi, MSc memberi tips apa saja yang harus diperhatikan:
1. Beri informasi yang tepat
Sebelum mengizinkan anak membawa ponsel, bekali dia dengan informasi yang tepat seputar ponsel. Mulai dari makna ponsel yang hanya digunakan untuk komunikasi.
Upayakan mengatur ponsel dengan fitur standar hanya untuk telfon dan sms saja, tanpa fasilitas infraredbluetooth maupun internet. Hal tersebut bisa meminimalisirkan anak mengakses gambar maupun data yang hanya boleh dikonsumsi orang dewasa.
Ajarkan bagaimana cara penggunaannya. Mulai dari menekan tombol ponsel yang tepat hingga menyimpan beberapa nomor penting yang sewaktu-waktu bisa dihubungi jika ada sesuatu masalah.
Ajarkan pula anak bagaimana memelihara dan menghargai barang berharga. Beri pengertian bahwa ponsel merupakan barang mewah yang tidak dibeli dengan harga murah. Sehingga anak bisa menjaga dan bertanggung jawab terhadap ponsel tersebut.
”Namun, jika ia kembali dari perjalanannya, ada baiknya ponsel segera tarik kembali,” katanya. 
Bekali pula pengetahuan mengenai penggunaan pulsa. Sering kali anak tidak memahami bahwa menggunakan ponsel untuk telfon atau SMS dapat menarik pulsa di HP-nya.
”Banyak yang lupa mengajarkan mengenai hal itu. Jika anak tidak diberi pengertian tentang itu, mereka akan seenaknya menggunakan pulsa,” bebernya.
2. Kerja sama
Tuntutan anak menggunakan ponsel tidak hanya terjadi di lingkungan rumah, tapi juga di sekolah maupun masyarakat. Anak merasa tidak trendi jika tidak dibekali HP yang memiliki game atau kamera.
Jika seperti itu keadaannya, buat kerja sama dengan pihak sekolah agar melarang siswa membawa ponsel ke sekolah. 
Namun, jika yang terjadi sekolah tetap mengijinkan siswanya membawa ponsel, bentuklah kerja sama yang baik dengan pihak sekolah.         
Minta pihak sekolah menyimpan ponsel saat pelajaran sekolah dan mengembalikannya saat jam pulang sekolah.
”Mungkin akan merepotkan bagi si guru, tapi hal itu cukup aman untuk menghindari penyalahgunaan ponsel,” tegasnya.
Selain itu, menitipkan ponsel pada pihak sekolah juga meminimalisirkan resiko ponsel hilang. ”Seperti diketahui, kasus HP hilang karena dicuri atau alasan lainnya sering kali terjadi di lingkungan sekolah,” katanya. 
Penyimpanan ponsel pada guru juga menghindari kesenjangan sosial diantara teman-temannya.
3. Kesepakatan
Orang tua tetap menjadi pemegang peranan penting dalam mengontrol penggunaan ponsel pada anak. Sebelum Anda mengijinkan anak menggunakan ponsel, buatlah kesepakatan di muka.
Kesepakatan tersebut dibutuhkan untuk menghindari konflik antara orang tua dan anak.
Orang tua menyampaikan pada anak, hingga dia mencapai usia tertentu, kedua orang tuanya memiliki akses besar untuk melihat-lihat isi ponsel, mulai dari pesan singkat hingga pesan gambar yang dikirimkan oleh teman-temannya.
”Orang tua wajib melihat isi yang ada pada ponsel anaknya. Untuk anak usia kelas 5 atau 6, biasanya mereka sering membicarakan hal-hal yang belum seharusnya pada lawan jenis.
Bagi mereka, agak sensitif jika orang tua melihat isi ponsel tersebut,” sarannya.
Karena itu, kesepakatan antar orang tua dan anak harus dibuat sebelum terjadi konflik.
Bila dirasa perlu, tetapkan pula aturan, anak hanya boleh membawa ponsel ketika pergi sendirian tanpa pengawasan orang tua atau pengasuhnya. Jika sampai di rumah, ponsel sebaiknya diletakan di ruang keluarga, bukan disimpan sendiri. (Bunga Kusuma Dewi)
Sumber : sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id
Share:

HATI-HATI ! PONSEL JUGA MENIMBULKAN DAMPAK NEGATIF

SAHABAT KELUARGA - Penggunaan ponsel pada anak juga menimbukan beberapa hal negatif terhadap perkembangan psikologis anak. Apa saja itu?  
1.Perilaku Konsumtif
Saat ini, tren ponsel memiliki putaran yang begitu cepat. Hanya dalam hitungan hari, muncul jenis ponsel baru yang tidak hanya menawarkan teknologi yang mutakhir tapi juga design yang baru.
Hal tersebut menarik minat pengguna untuk mengganti ponsel sesuai dengan tren. Tuntutan seperti itu membuat anak berperilaku konsumtif tanpa memikirkan dampak dibelakangnya.
2. Kecanduan
Secara teori, penggunaan ponsel secara terus menerus akan menimbulkan perilaku kecanduan. Sifat ketergantungan tersebut lebih menonjol untuk penggunaan fasilitas game (permainan).
Anak sudah pasti dilarang membawa alat permainannya ke sekolah. Alternatif lainnya, ia membawa ponsel yang kemudian digunakan untuk bermain saja.
”Hal itulah yang sering kali membuat anak kecanduan memegang ponsel,” kata psikolog anak, Agustina Hendriati, Psi, MSc.
3. Interaksi Sosial Berkurang
Terlalu seringnya anak melakukan komunikasi dengan HP menimbulkan kecenderungan anak tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Namun, jangan cepat menyimpulkan kondisi tersebut.
Lihat dulu komposisi anak saat bergaul melalui ponsel maupun bergaul langsung.
Secara terori, kontak sosial melalui tatap muka dan ponsel memiliki kelas yang berbeda. Dengan tatap muka, anak belajar untuk membuat kontak sosial yang total. Anak belajar merespon bahasa tubuh dan membaca gerakan tubuh kita dengan baik.
Sementara, jika ia berkomunikasi dengan ponsel, anak akan menginterpretasikan tulisan tersebut sesuai dengan pikirannya sendiri.
”Jika itu terus menerus terjadi, kemampuan interaksi sosial anak jadi berkurang. Dia tidak bisa membaca bahasa tubuh secara langsung. Yang ia tahu hanya bahasa tulisan saja,” jelasnya.
Jelas, kondisi tersebut akan membahayakan perkembangan psikologis anak. Sentuhan dan komunikasi tatap muka merupakan faktor penting dalam mendidik anak. (Bunga Kusuma Dewi)
Share:

5 PILAR KURANGI PENYAKIT BERBASIS LINGKUNGAN

Sulitnya akses air bersih dan sanitasi yang buruk memicu munculnya penyakit berbasis lingkungan seperti diare kronik dan stunting. Pemerintah mencanangkan 5 pilar dalam program Sanitasi Total Berbasis Lingkungan (STBM) untuk mengurangi penyakit tersebut.

5 pilaritu, yakni berhenti buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

 “Terkait dengan pendekatan keluarga, lima pilar ini adalah pendekatan untuk perubahan perilaku masyarakat. Tujuannya untuk menurunkan penyakit yang berbasis lingkungan. Termasuk juga stunting akibat diare kronik yang disebabkan kekurangan gizi, Dampaknya, pertumbuhan tubuh terganggu,” kata Direktur Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan RI dr. Imran Agus Nurali, Sp. KO.
Jadi kelima pilar ini, tambahdr. Imran, kita harapkan bersama-sama, tentu mulai dari pilar pertama, masyarakat bisamembuang air besar tidak sembarangan, agar tidak mencemari lingkungan dan air yang akan dikonsumsi. Kemudian cuci tangan dengan sabun, itu dapat diaplikasikan melalui anak sekolah untuk menerapkan kebiasaan hidup bersih, dan pilar lainnya.

 “Ini yang saya sampaikan tentang lima pilar ini dan dengan 12 indikator keluarga sehat yang salah satupoin di dalamnya ada keluarga memiliki/memakai air bersih dan memakai jamban sehat. Tentunya akan memperkuat pencapaian keluarga sehat,” kata dr. Imran.

Selain itu, dr. Imran mengatakan saat ini secara nasional, akses sanitasi yang layak mencapai 68,06% data perhari. Kemudian desa dan kelurahan yang sudah bias berhenti buang air besar sembarang sekitar 8.429 desadari total sekitar 82 ribu desa.“Di DKI Jakarta total 73,69 % keluarganya sudah akses sanitasi yang layak,” tambah dr. Imran.

Untuk mewujudkan akses air bersih dan sanitasi dibutuhkan kemitraan yang harus dibangun bukan hanya dari unsure kesehatan dan lintas sektor pemerintahan. Kementerian yang terlibat dalam program ini, yakni KemenLHK, Kemenkes, KemenESDM, KemenPUPR, dan KemenPerindustrian. Kemenkes dalam hal ini fokus pada perubahan perilaku masyarakat untuk tidak membuang air besar sembarang.

 “Saya rasa ini dari sisi pendekatan sinergitas sektor yang harus diutamakan, memang tema kita adalah kolaborasi dengan pemerintah termasuk kemitraan dengan masyarakat,” kata dr. Imran.
Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat,Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan email kontak@kemkes.go.id.** Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat - drg. Oscar Primadi, MPH
Share:

HARI AIR DUNIA MENGINGATKAN KEMBALI AKAN PENTINGNYA AIR DAN PENGELOLAAN AIR LIMBAH

Dalam rangka meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingnya air dan pengelolaan air limbah, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggelar kampanye publik Hari Air Dunia (HAD), Minggu (26/3) pagi di kawasan car free day, Jakarta. Aksi ini diawali dengan sepeda santai dari Kampus Kementerian PUPR di Jalan Pattimura menuju lokasi acara di Sarinah-Thamrin. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara peringatan HAD yang digelar oleh Kementerian PUPR dan masih akan berlangsung hingga April mendatang.

"Dengan peringatan Hari Air Dunia tahun 2017 yang bertema Air dan Air Limbah, pertama, saya mengajak kita semua untuk introspeksi pada diri kita masing-masing apakah kita sudah berperilaku dan beretika dengan baik terhadap lingkungan baik flora dan fauna. Ini bukan soal teknologi, ataupun sarana dan prasarananya. Tetapi tentang perilaku kita terhadap lingkungan dan air," ujar Menteri Basuki dalam arahannya.

HAD diperingati secara global tanggal 22 Maret setiap tahunnya. Peringatan ini menjadi momentum bagi seluruh masyarakat dunia untuk bekerja sama menjaga kualitas dan kuantitas air demi keberlangsungan hidup di masa depan. Sebagai negara maritim, persoalan ketersediaan air bersih dan degradasi kualitas air akibat pencemaran limbah masih menjadi tantangan untuk diatasi di Indonesia. Terlebih dengan pertumbuhan prosentase penduduk yang semakin tinggi terutama di kawasan perkotaan yang kini menjadi tempat tinggal 53% penduduk, berdampak langsung meningkatnya kebutuhan air bersih dan lingkungan permukiman yang lebih sehat.

Dari segi kuantitas, Indonesia memiliki potensi sebesar 3,9 triliun meter kubik per tahun dengan volume terbesar berada di Pulau Papua dan Kalimantan. Sedangkan yang potensial dimanfaatkan untuk menunjang kehidupan masyarakat, berkisar 691 miliar meter kubik per tahun. Dari jumlah itu, Indonesia baru memanfaatkan sekitar 175 miliar meter kubik air per tahun. Sementara sisanya sekitar 516 miliar meter kubik air yang potensial belum dimanfaatkan secara optimal.

Untuk pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat, sejak tahun 2015 Kementerian PUPR melalui Ditjen Sumber Daya Air terus meningkatkan kuantitas air dengan memperbanyak tampungan air salah satunya dengan pembangunan 65 bendungan yang ditargetkan selesai keseluruhan pada tahun 2021, rehabilitasi 3 juta hektar lahan irigasi, pembangunan 1 juta hektar lahan irigasi baru, dan normalisasi sungai. Dengan dibangunnya 65 bendungan tersebut maka ketersediaan tampungan air di Indonesia akan meningkat dari sebelumnya yang hanya 12,6 miliar meter kubik yang berasal dari 230 bendungan yang sudah ada menjadi 19,1 miliar meter kubik.

Selain peningkatkan kuantitas, kualitas air juga perlu menjadi perhatian. Sebagian besar air yang bisa dimanfaatkan masih berkualitas buruk. Hal itu dikarenakan adanya limbah serta kerusakan tanah sebagai resapan air akibat alih fungsi lahan oleh masyarakat. Pada awal 2015 akses air minum aman baik melalui jaringan perpipaan maupun non perpipaan di Indonesia sebesar 68 persen, dan meningkat menjadi 72 persen di akhir 2016. Hingga akhir 2019 mendatang, Kementerian PUPR melalui Ditjen Cipta Karya terus berupaya untuk mendekati target 100% akses air minum yang layak.
Terkait air limbah, Kementerian PUPR mendorong pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) terpusat dan terpadu di berbagai daerah. Saat ini baru 13 kota, yakni Medan, Jakarta, Yogyakarta, Bandung, Solo, Balikpapan, Banjarmasin, Cirebon, Denpasar, Batam, Manado, Tangerang, dan Malang  yang telah memiliki sistem pengelolaan air limbah secara off site, dimana air limbah domestik dialirkan melalui sistem perpipaan dan diolah secara terpadu dalam satu lokasi IPAL, itupun baru menjangkau sebagian dari warga kotanya.
 
Pelibatan Masyarakat untuk Wujudkan Kepedulian terhadap Air dan Air Limbah

Menjaga kuantitas dan kualitas air bukan sebatas tugas pemerintah. Keterlibatan semua elemen masyarakat amat penting untuk menunjang usaha yang dilakukan pemerintah. Dalam momentum HAD ini, Kementerian PUPR menjalin kerja sama dengan kelompok masyarakat sebagai kekuatan tersendiri dalam pemberdayaan pengelolaan air.

Menteri Basuki menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada komunitas yang yang tak pernah lelah dalam menjaga siklus air dengan merawat lingkungan melalui aksi nyata di kawasan sekitar situ, sungai, dan danau, maupun melalui pengelolaan limbah rumah tangga yang baik.

Untuk itu, aksi pagi ini dilanjutkan dengan penandatangan Deklarasi Aksi Nyata Dalam Mewujudkan Kemanfaatan Sumber Daya Air Yang Berkelanjutan oleh komunitas dan masyarakat yang hadir. Isi Deklarasi Aksi Nyata Dalam Mewujudkan Kemanfaatan Sumber Daya Air Yang Berkelanjutan sebagai berikut:

Hari Minggu (26/3) mewakili komunitas peduli sungai, komunikas peduli sampah 3 R dan komunitas sanimas, kami menyadari bahwa sungai merupakan Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa yang wajib dipelihara fungsi dan kelestariannya, maka kami berkomitmen:

  1. Sepakat bahwa sungai adalah sumber daya alam yang sangat penting bagi masyarakat;
  2. Berkomitmen untuk memelihara persatuan antar komunitas serta saling berbagi pengalaman dalam rangka meningkatkan pengetahuan demi terciptanya kelestarian sungai;
  3. Bertekad dengan sekuat tenaga mengajak masyarakat dalam gerakan peduli sungai dan siap bekerjasama dengan pihak lain demi kelestarian sungai;
  4. Siap secara aktif melaksanakan fungsi pengawasan dan melaporkan kepada pemerintah atas tindakan yang berpotensi merusak kelestarian sungai;
  5. Siap secara aktif bersama keluarga dan masyarakat melaksanakan pengelolaan sampah dan pengelolaan sanitasi untuk mengurangi pencemaran limbah air sungai, serta tidak membuang limbah ke sungai;
  6. Bertekad senantiasa menjunjung tinggi kebersamaan dan kekeluargaan tanpa memandang ras, suku dan agama dalam kegiatan pelestarian sungai
Sumber : www.kemdikbud.go.id
Share:

Tas Ransel Anak Sd Smp Tas Sekolah Murah Ranse

Shopee

Total Tayangan Halaman

Arsip Blog

Labels

Blog Archive